Di Balik Pledoi Ammar Zoni: Antara Penyesalan, Tekanan, dan Harapan Pulang
By Admin

Ammar Zoni/dok. tl-yt
nusakini.com, Di ruang sidang yang tenang, suara Ammar Zoni terdengar bergetar. Ia tidak lagi berbicara sebagai seorang aktor yang terbiasa di depan kamera, melainkan sebagai seorang ayah yang tengah menghadapi konsekuensi hidupnya.
Dalam proses persidangan yang masih berjalan, Ammar memilih mengakui satu hal: kesalahannya menggunakan narkotika. Namun di saat yang sama, ia berusaha meluruskan narasi yang menurutnya tidak sesuai dengan kenyataan.
Ia berkali-kali menyampaikan bantahan atas tudingan sebagai pengedar. Baginya, kesalahan pribadi tidak serta-merta menjadikannya bagian dari jaringan peredaran.
Di tengah tekanan hukum yang dihadapinya, Ammar juga mengungkap pengalaman yang disebutnya terjadi saat proses pemeriksaan. Ia mengaku berada dalam situasi yang menekan, tanpa pendampingan hukum, bahkan mengalami perlakuan yang tidak semestinya.
Namun lebih dari itu, sisi paling kuat dari pembelaannya justru muncul saat ia berbicara tentang keluarga. Dua anak yang masih kecil menjadi alasan utama mengapa ia berharap diberi kesempatan kedua.
Ia membayangkan kembali ke kehidupan yang berbeda—tanpa narkoba, tanpa kesalahan yang sama—dan mencoba membangun kembali kepercayaan yang telah runtuh.
Di tengah proses hukum yang belum selesai, ruang sidang menjadi tempat di mana penyesalan, pembelaan, dan harapan bertemu dalam satu waktu. (*)